Oleh: H. Galih
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Saudaraku yang muda, yang hatinya mungkin saat ini sedang digayuti rasa cemas, dan yang malam-malamnya terasa begitu panjang karena memikirkan beban amanah harta (utang) yang belum terfaikan.
Ada sebuah fase dalam hidup di mana dunia terasa begitu sempit. Ketika dering gawai menjadi sumber ketakutan, dan bayang-bayang esok hari terasa menjelma menjadi monster yang menakutkan. Jika Anda sedang berada di titik ini, ketahuilah bahwa Anda tidak sedang berjalan sendirian. Berhentilah sejenak, tenangkan hati Anda, dan mari kita lihat ujian ini melalui kacamata iman dan literatur Islam yang jernih.
1. Validasi Ujian: Rasulullah ﷺ pun Memohon Perlindungan dari Utang
Jangan pernah merasa bahwa ketika Anda terlilit utang, Anda adalah hamba yang paling dikutuk oleh Allah. Utang adalah ujian horizontal yang juga disadari beratnya oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ di dalam salatnya sangat sering membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ المَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan dari terlilit utang (al-maghram).”
Ketika seorang sahabat bertanya mengapa beliau begitu sering berlindung dari utang, Rasulullah ﷺ menjawab: “Sesungguhnya seseorang yang terlilit utang, jika dia berbicara dia akan berdusta, dan jika dia berjanji dia akan mengingkari.”
Hikmah untuk Anda: Rasulullah ﷺ memahami bahwa utang bisa merusak karakter seorang pemuda. Oleh karena itu, langkah pertama untuk bangkit adalah menyadari bahayanya, namun bukan untuk meratapinya, melainkan untuk segera menyusun strategi pertobatan dan pelunasan.
2. Belajar dari Iffah (Menjaga Kehormatan) Generasi Salaf
Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala’ karya Imam Al-Dzahabi, kita diajarkan bagaimana para ulama muda zaman dahulu menyikapi kemiskinan dan utang. Mereka tidak menggadaikan harga diri mereka, tidak pula menipu.
Seperti kisah masa muda Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani yang menolak mengemis di kota Baghdad meskipun perutnya melilit karena lapar dan kebutuhan kitabnya menuntutnya untuk mencari pinjaman. Beliau mempraktikkan apa yang disebut Al-Qur’an sebagai sifat ‘Iffah:
يحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ
“Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta.” (QS. Al-Baqarah: 273)
Bagi Anda pemuda Muslim hari ini:
- Turunkan Gengsi di Hadapan Manusia: Jika hari ini Anda harus beralih profesi menjadi pedagang kecil, pengemudi daring, atau pekerja kasar demi mencicil utang, lakukanlah dengan bangga. Sifat wara’ dan mencari rezeki halal adalah jihad yang agung.
- Sampaikan Keberadaan dengan Jujur: Temui pihak yang memberikan pinjaman (al-muqridh) dengan adab yang baik. Jelaskan kondisi Anda tanpa berdusta. Kejujuran Anda adalah pembuka pintu rida Allah.
3. Janji Allah Bagi yang Berniat Melunasi
Pilar motivasi terbesar bagi seorang Muslim bukanlah kata-kata puitis manusia, melainkan janji dari Sang Pemilik Semesta. Jika di dalam hati kecil Anda ada niat yang tulus dan membaja untuk melunasi utang tersebut, Allah sendiri yang akan menjadi penjamin Anda.
Perhatikan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari berikut ini:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ
“Barangsiapa yang mengambil harta manusia (berutang) dengan niat ingin melunasinya, maka Allah akan menunaikan (melunasi) utang tersebut untuknya.”
Sebaliknya, jika utang itu diambil hanya untuk memuaskan gaya hidup (tahsiniyat) dan sengaja ditunda-tunda pembayarannya, maka Allah akan menghancurkan hidupnya.
4. Rekonsiliasi Jiwa: Mengambil “Jalur Langit”
Saudaraku yang mulia, mulailah merancang formula kebangkitan Anda dengan memadukan dua jalur:
A. Ikhtiar Lahiriyah (Profesionalisme)
Hentikan semua pengeluaran yang tidak perlu. Catat setiap rupiah utang Anda dalam sebuah jurnal khusus—ini adalah bentuk ketaatan pada perintah tertulis dalam Ayat Mudayanah (QS. Al-Baqarah: 282). Bekerjalah dengan disiplin yang tinggi.
B. Ikhtiar Batiniyah (Spiritualitas)
Basahi lidah Anda dengan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Abu Umamah—seorang sahabat muda yang juga terduduk lesu di masjid karena terlilit utang:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kikir, dan dari himpitan utang serta kesewenang-wenangan manusia.” (HR. Abu Dawud)
Penutup: Badai Ini Akan Berlalu
Ujian finansial di masa muda adalah sebuah “kurikulum” langit yang berat, namun ia bertujuan untuk mematangkan jiwa Anda. Kelak, saat Anda telah keluar dari lubang ujian ini dengan selamat, Anda akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak lagi silau oleh dunia, memiliki empati yang dalam terhadap orang miskin, dan memiliki tauhid yang kokoh.
Jadikan setiap peluh yang menetes dalam ikhtiar mencari rezeki halal sebagai penghapus dosa-dosa masa lalu. Jangan putus asa dari rahmat Allah. Sungguh, pertolongan Allah itu amat dekat bagi jiwa-jiwa yang mengetuk pintu-Nya dengan penuh kepasrahan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

















