Oleh: H. Galih
Bagi sebagian besar umat Muslim, nama Sultanul Auliya (Rajanya para Wali), Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, identik dengan kemuliaan, karomah yang agung, dan kemasyhuran yang melintasi zaman. Namun, jarang ada yang mengulas bahwa sebelum beliau menduduki maqam (kedudukan) spiritual yang begitu tinggi, beliau adalah seorang manusia yang ditempa oleh badai ujian yang sangat hebat—termasuk ujian kefakiran ekstrem, kelaparan, hingga terlilit utang demi bertahan hidup dan menuntut ilmu.
Kisah masa muda Sang Syekh di Baghdad adalah potret nyata bahwa kemuliaan tidak datang secara instan. Di balik jubah kebesarannya yang kelak dikagumi dunia, ada jejak kaki yang melepuh karena berjalan tanpa alas, dan lambung yang seringkali kosong berminggu-minggu.
1. Riwayat Kehidupan di Baghdad: Titik Terendah sang Penuntut Ilmu
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Baghdad untuk menuntut ilmu, Syekh Abdul Qodir tidak membawa bekal yang mewah. Riwayat dari para sejarawan Islam mencatat fase di mana beliau harus bertahan hidup di tengah kerasnya kota metropolitan Islam saat itu.
Dalam kitab Qala’id al-Jawahir karya Syekh Muhammad bin Yahya al-Tadifi, diceritakan bahwa Syekh Abdul Qodir muda seringkali tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli sepotong roti. Untuk mengganjal perutnya, beliau terpaksa keluar ke pinggiran kota Baghdad, menyusuri tepi Sungai Tigris, mencari sayur-sayuran sisa atau dedaunan liar yang bisa dimakan.
Ketika dedaunan pun diperebutkan oleh orang-orang miskin lainnya, beliau memilih mengalah dan kembali ke masjid dalam keadaan lapar. Pada fase-fase sulit inilah, untuk bertahan hidup, membeli kitab, dan membayar kebutuhan pokok yang mendesak, beliau beberapa kali terpaksa berutang kepada pedagang setempat.
2. Riwayat Ujian Utang: Antara Harga Diri dan Ketakwaan
Dalam beberapa catatan manaqib (biografi), terdapat riwayat yang menggambarkan bagaimana beliau menyikapi ujian utang ini dengan keluhuran budi pekerti:
- Menolak Meminta-minta: Meskipun dalam keadaan terlilit utang kepada penjual makanan atau pemilik tempat tinggal, Syekh Abdul Qodir mengharamkan dirinya untuk mengemis. Beliau memegang teguh prinsip iffah (menjaga kehormatan diri).
- Keteguhan dalam Janji: Ketika tagihan utang datang, sementara beliau belum memiliki uang, beliau tidak lari atau bersembunyi. Beliau menghadapi sang penagih dengan senyuman dan tutur kata yang lembut, meminta kelonggaran waktu sambil terus mengetuk pintu langit melalui salat malamnya.
- Pertolongan yang Tak Terduga: Diriwayatkan, suatu ketika utang beliau telah menumpuk dan jatuh tempo. Di tengah kepasrahan, datanglah seseorang yang tidak dikenal memberikan kantong berisi uang emas (dinar) kepada beliau. Alih-alih menggunakan uang itu untuk kesenangan, Syekh Abdul Qodir langsung berlari mencari orang-orang yang menghutanginya dan melunasi seluruh kewajibannya hingga tak tersisa sepeser pun.
3. Riwayat Suara Gaib dan Hikmah di Balik Ujian
Ada satu riwayat masyhur yang dialami Syekh Abdul Qodir saat beliau berada di puncak rasa lapar dan himpitan beban hidup. Beliau berjalan di pasar Baghdad dan melihat seorang pria menjatuhkan sepotong kertas. Di kertas itu tertulis ayat Al-Qur’an: “Apakah mereka yang Kami beri kesenangan hidup…?”
Tak lama setelah itu, beliau mendengar suara tanpa rupa (hifz/ilham gaib) yang menegurnya dengan lembut:
“Wahai Abdul Qodir, mengapa engkau begitu cemas dengan urusan rezeki dan duniamu? Bukankah Kami telah menjaminnya? Kembalilah pada tugasmu menuntut ilmu dan beribadah.”
Seketika itu juga, rasa lapar dan kecemasan akan utang-utangnya lenyap dari hati beliau. Beliau menyadari bahwa ujian ekonomi ini adalah cara Allah membersihkan hatinya dari ketergantungan kepada makhluk (tajrid).
Refleksi Kontemporer: Pelajaran untuk Kita
Saudaraku, apa yang bisa kita petik dari riwayat kehidupan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani ini?
- Utang Bukan Akhir dari Segalanya: Jika hari ini Anda sedang diuji dengan bisnis yang runtuh, cicilan yang menumpuk, atau utang yang mencekik, ingatlah bahwa kekasih Allah pun pernah berada di posisi itu. Ini bukan tanda Allah benci, melainkan proses “sekolah kehidupan” untuk menaikkan derajat Anda.
- Jaga Integritas dan Iffah: Jangan biarkan utang merusak iman. Tetaplah jujur, jangan menipu, jangan memberikan janji palsu kepada pemberi utang, dan kuatkan ikhtiar serta tawakal.
- Kesabaran Membuahkan Kemasyhuran: Syekh Abdul Qodir tidak akan pernah menjadi “Sultanul Auliya” yang sabar dan bijaksana jika beliau tidak pernah merasakan perihnya kelaparan dan beratnya beban utang. Kesulitan bertindak sebagai pupuk bagi jiwa yang agung.
Semoga riwayat ini menjadi penyejuk hati bagi setiap jiwa yang sedang sempit, menjadi pelecut semangat bagi kita yang sedang berjuang, dan pengingat bahwa setelah kesulitan, pasti ada kemudahan yang teramat besar. Wallahu a’lam bish-shawab.

















