Oleh: Haji Galih – aura insani
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pembaca yang dirahmati Allah, perjalanan menyusuri jejak-jejak spiritual Walisongo dari Jawa Timur hingga Jawa Barat bukanlah sekadar pelesiran spiritual pengisi waktu luang. Bagi kita yang memahami esensi agama, ziarah ini adalah sebuah ibadah yang memiliki akar kuat dalam syariat Islam.
Sering kali kita mendengar selentingan yang mempertanyakan, “Mengapa harus jauh-jauh mendatangi makam orang yang sudah wafat?” Melalui artikel ini, saya ingin mengajak kita semua membedah secara mendalam dan ilmiah—berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW—tentang apa saja manfaat hakiki yang kita dapatkan saat mengetuk “pintu” sejarah para kekasih Allah (Waliyullah) di tanah Jawa ini.
1. Aktualisasi Sunnah Nabi: Mengingat Akhirat dan Melembutkan Hati
Manfaat paling utama dari ziarah kubur adalah manfaat teologis dan psikologis yang langsung berdasar pada sabda Rasulullah SAW. Dahulu, pada awal-awal Islam, Nabi memang sempat melarang ziarah kubur karena iman kaum muslimin masih lemah dan khawatir terjerumus pada sinkretisme. Namun, setelah iman mereka kuat, larangan itu dicabut.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis sahih:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat membuat zuhud di dunia dan mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Abani).
Dalam riwayat lain oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW juga menyebutkan:
فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ “…maka berziarahlah kalian ke kubur, karena ia dapat mengingatkan kalian pada kematian.” (HR. Muslim).
Catatan Haji Galih:
Ketika kita berdiri di depan makam Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, atau Sunan Gunung Jati, kita melihat nama besar yang kini membeku di bawah nisan. Mereka yang dahulu menggoncang peradaban Jawa dengan dakwahnya, kini berbaring dalam kesunyian. Di sinilah ego kita runtuh. Hati yang keras karena urusan bisnis, politik, dan keduniawian seketika melunak. Kita sadar, kita pun akan menyusul mereka.
2. Bertawasul dan Mengharap Keberkahan Tempat Orang Saleh
Satu hal yang sering disalahpahami adalah konsep tabarruk (mencari berkah) dan tawasul (menjadikan perantara). Peziarah yang lurus akidahnya tidak pernah meminta restu, pesugihan, atau menyembah makam sang wali. Kita meminta hanya kepada Allah, namun kita memilih tempat di mana hamba kesayangan-Nya dikebumikan.
Mengapa? Karena Allah SWT mencintai para wali-Nya. Dalam sebuah Hadis Qudsi yang sangat terkenal, Allah SWT berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ… “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku (kekasih-Ku), maka Aku mengumumkan perang kepadanya…” (HR. Bukhari).
Jika memusuhi wali berarti menantang perang dengan Allah, maka sebaliknya, mencintai, menghormati, dan mendoakan para wali adalah jalan pintas mendapatkan rida Allah.
Berdoa di dekat makam orang saleh diharapkan menjadi wasilah agar doa kita lebih cepat dikabulkan, karena tempat tersebut adalah tempat yang sering diziarahi malaikat membawa rahmat, sebagai penghormatan kepada jasad sang wali yang bersih.
3. Melaksanakan Perintah Menghormati Ulama (Penerus Nabi)
Walisongo adalah representasi nyata dari para ulama penyebar Islam di Nusantara. Menziarahi mereka adalah bentuk konkret dari penghormatan kita kepada warisan Rasulullah SAW. Nabi SAW menegaskan posisi ulama dalam sabdanya:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ “Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Dengan berziarah, kita melakukan napak tilas sejarah. Kita mempelajari bagaimana Sunan Kudus merangkul umat Hindu dengan tidak menyembelih sapi, atau bagaimana Sunan Bonang menggubah gending sekaten. Ini adalah edukasi visual dan spiritual yang tidak akan didapatkan hanya dengan membaca buku sejarah di kelas.
4. Keutamaan Mendoakan Sesama Muslim yang Telah Wafat
Saat kita berziarah, kita dianjurkan membaca salam dan mendoakan ahli kubur. Doa orang yang hidup kepada yang mati memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih jika yang didoakan adalah para pejuang agama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ “And orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami…’” (QS. Al-Hasyr: 10).
Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk mengucapkan salam khusus saat memasuki area makam:
“Assalamu’alaikum ala dyaaril qaumil mu’minin, wa inna insya Allahu bikum laahiquun…” (Salam keselamatan atas kalian wahai penghuni kampung orang-orang mukmin, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian).
Bayangkan jutaan rahmat yang mengalir ketika kita, bersama rombongan, melantunkan surah Yasin dan Tahlil secara serempak. Energi positifnya tidak hanya sampai kepada sang wali, tetapi memantul kembali ke dalam jiwa kita yang berdoa.
5. Manfaat Sosial-Ekonomi: Mengikat Ukhuwah dan Menghidupkan Sektor Riil
Secara horizontal (hubungan antarmanusia), ziarah Walisongo yang biasanya memakan waktu beberapa hari mengajari kita tentang akhlak bermuamalah dan sabar dalam perjalanan (Safar). Perjalanan jauh adalah momentum terbaik untuk melihat karakter asli seseorang dan melatih sifat mementingkan orang lain (itsar).
Lebih dari itu, aktivitas ziarah ini adalah roda penggerak ekonomi umat (Islamic economic multiplier effect). Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk hidup mandiri dan berniaga. Kompleks makam Walisongo adalah pasar raksasa bagi pedagang kaki lima, pembuat kerajinan lokal, pemandu wisata, hingga pemilik penginapan jelata. Berbelanja di sana dengan niat membantu ekonomi saudara seiman adalah ladang pahala tersendiri.
Rangkuman Intisari dari Haji Galih
Agar ziarah kita ke makam Walisongo bernilai pahala penuh dan terhindar dari bid’ah yang merusak akidah, pegang erat tiga prinsip ini:
- Niatkan karena Allah: Kita melangkah untuk ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi dalam berziarah.
- Jaga Adab: Jauhi perilaku meratap (niyahah), tidak mengambil tanah atau benda makam untuk jimat, dan tetap menghadap kiblat saat berdoa kepada Allah.
- Ambil Ibrah (Pelajaran): Sepulang dari ziarah, tanyakan pada diri sendiri: “Ulama sedemikian hebatnya berjuang untuk Islam, lalu apa yang sudah saya perbuat untuk agama ini?”
Semoga perjalanan ziarah kita senantiasa diberkahi, memperkuat iman, melunakkan hati, dan kelak mengumpulkan kita bersama para kekasih Allah di dalam jannah-Nya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
















